SYIAH :
SEJARAH TIMBUL DAN PERKEMBANGANNYA DI INDONESIA
Oleh : Moh. Hasim
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama
Sematang
Alamat : Jl. Untung Suropati Kav. 70 Bamban Kerep Ngaliyan
Semarang
Email : hasimlitbang@yahoo.co.id
Abstrak
Syiah
menjadi problem baru di Indonesia setelah ratusan tahun hidup bersama. Saat
ini, perlakuan terhadap Syiah sudah mengarah pada bentuk pelanggaran terhadap
prinsip kebebasan beragama. Oleh karena itu perlu diketahuibagaimana sejarah munculnya siah dan
perkembangan Syiah di Indonesia? Melaui penelitian library reseachdengan pendekatan analisis
kritispenelitian ini menemukan bahwa syiah adalah paham keagamaan yang
menyandarkan pada pendapat Syaidina Ali (kholifah ke empat) dan keturunannya
yang muncul sejak awal pemerintahan
khulafaurasidin. Syiah berkembang menjadi puluhan aliran-aliran karena
perbedaan paham dan perbedaan dalam mengangkat Imam. Perkembangan syiah di
Indonesia melalui empat tahap gelombang, yaitu: Pertama, bersamaan dengan
masuknya Islam di Indonesia; Kedua, pasca revolusi Islam Iran; Ketiga, Melaui
Intelektual Islam Indonesia yang belajar di Iran; dan Empat, Tahap keterbukaan
melaui Pendirian Organisasi Ikatan Jamiah Ahlul Bait Indoensia.
Kata
Kunci : Sejarah, Syiah Indonesia
A.
Pendahuluan
Keberhasilan revolusi Islam di Iran (1979) yang terinspirasi oleh
doktrin-doktrin faham Syiah, dalam banyak hal telah menghembuskan angin
perubahan dalam tata perpolitikan dunia internasional. Tidak hanya di dalam
negeri Iran sendiri,Syiah juga memberikan pengaruh yang tidak sedikit pada
negara-negara Arabdan termasuk Indonesia.Buah pikiran tokoh-tokoh di balik
Revolusi Islam Iran, seperti Ayatullah Rohullah Khomeini, Syahid Muthahari, Ali
Syariati, dan Allamah Thabathabai menjadi mutiara yang menarik perhatian para
cendekiawan. Ide-ide mereka menjadi rujukan dalam pecaturan pemikiran politik alternatif
dikalangan cendekiawan muslim dunia, temasuk di Indonesia.
Babak baru perkembangan Syiahdi Iransejak 33tahun lalu-sampai saat inimasih
menunjukkan keberhasilannya dalam membangun peradaban di Iran. Iran menjadi
satu-satunya negara dibelahan Timur yang berani nenentang hegemoni kekuasaan
ekonomi dan politik Barat. Syiah menjadi idola bagi para pemuda sebagai
ideologi revolusioner ditengah kebekuan ideologi bangsa-bangsa muslim pasca keruntuhan
dinasti Islam. Sehingga tidak mengherankan, jika dalam tiga dasawarsa terakhir
banyak intelektual Indonesia yang dengan begitu fasih mengutip
transkrip-transkrip pemikiran Ali Syari'ati, Muthahhari atau pemikir-pemikir
Syi'ah lainnya.
Masuknya karya-karya pemikir Syiahdi Indonesia menjadi oase baru bagi
intelektual Indonesia. Kajian filsafat yang diusung oleh Syiah menjadi diskursus
dalam pemikiran yang tidak pernah terputus untuk dikaji. Pemuda-pemudi di
kalangan kampus begitu antusias, untuk mendiskusikan pemikiran-pemikiran Syiah.
Akan tetapi begitu mendengar kerusuhan di Sampang, banyak orang terhentak
kaget.Disharmoni antara Suni dengan Syiah kembali terkuak. Sehingga banyak
muncul pertanyaan di benak masyarakat, apa sebenarnya Syiah?
Keprihatianan atas kasus Syiah sangat saat inisangat beralasan. Indonesia sebagai negara yang berketuhanan Yang
Maha Esa dan tidak mendasarkan ideologi negara pada salah satu agama, telah
memberikan jaminan kebebasan dalam beragama. Melalui Undang-Undang Dasarmemberi
kejelasan tentang hal ini, yaitu dalam pasal 29 ayat 2 yang berbunyi : “Negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing
dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Oleh karena itu,
sangat disayangkan dengan terjadi pembantaian terhadap penganut paham atau
keyakinan keagamaan Syiah, karena dinilai berbeda dengan mainstream agama di
Indonesia.
Oleh karena itu penelitian terhadap paham Syiahperlu dilakukan untuk
mengkaji permasalahanSyiah,dilihat dari sisi sejarah dan penyebarannya di
Indonesia. Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini yaitu : Bagaimana
sejarah munculnya siah dan perkembangan Syiah di Indonesia?
Penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan kedudukan ideologi Syiah dalam
perkembangan pemikiran Islam dan mencoba memahami latar historis munculnya
faham Syiah dengan berbagai farian yang ada didalamnya. Harapannya masyarakat
lebih bijak dalam memahami perbedaan keyakinan dan tidak saling mengkafirkan,
apalagi membunuh.
B. Kerangka Teori
Syi’ah dari
segi bahasa (etimologi) berarti pengikut, pecinta, pembela, yang ditujukan
kepada ide, individu atau kelompok tertentu (Shihab, 2007).Syiah dalam
arti kata lain dapat disandingkan juga dengan kataTasyaiyu’yang berarti patuh/mentaati secara agama dan mengangkat
kepada orang yang ditaati dengan penuh keikhlasan tanpa keraguan. Penggunaan
kata Syiah dari sisi bahasa ini telah banyak diungkap dalam al-qur’an dan
literatur-literatur lama. Dalam Al-Quran penggunaan kata Syiah terdapat dalam surat
Ash-Shaaffaat ayat 83 yang artinya: “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar
sebagai pendukungnya (Nuh)”. Dalam
naskah lama terdapat syair yang pernah dilantunkan oleh sahabat Hasan bin
Tsabit ketika ia memuji Nabi Muhammad Saw. Dengan syair :Akrama bi qaumi rasulillah syi’atuhum,
Idza ta’ddadat al-ahwa wa syiya’Artinya: “Orang yang paling mulia diantara
umat Rasulullah adalah para pengikutnya, apabila telah banyak
para pemuja nafsu dan pengikut”.(
...... )Sehingga kata “Syiah”dalam kebahasaan sudah dikenal sejak awal
kepemimpinanIslam, sebagai identifikasi terhadap kelompok-kelompok yang
mengidolakan seseorang yang dianggap sebagai tokoh.
Adapun
Syiah dalam artiterminologi terdapat banyak pengertian yang sangat sulit dapat
mewakili seluruh pengertian Syiah. Dalam Ensiklopedi Islam, Syiahyaitu kelompok
aliran atau paham yang mengidolakan bahwa Ali bin Abi Thalib ra. dan
keturunannya adalah Imam-Imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi
Muhammad SAW (Ensiklopedi Islam, 1997).Pengertian ini dibantah oleh kelompok di
luar Syiah karena dinilai tidak dapat mewakili fakta yang sebenarnya. KH
Srajuudin Abas menilai bahwa tidak semata-mata kelompok Syiah saja yang mencintai
(mengidolakan) Ali bin Abi Tholoib tetapi kelompok Ahlu Sunnah juga mencintai
Ali, dan bahkan seluruh umat muslim juga mencintai Ali dan keturunannya.
Jalaluddin
Rahmat sebagai ketua Ikatan Jamaah Ahlu Ba’it Indonesia (IJABI) mendifenisikan Syiah
dalam pengertian pengikut Islam yang berpedoman kepada ajaran Nabi Muhammad dan
Ahlul Bait atau keluarga Nabi Muhammad, yaitu Ali bin Abi Thalib – sepupu
sekaligus menantu Nabi Muhammad, Fatimah az-Zahra – putri bungsu Nabi Muhammad
dari istri pertamanya Khadijah, Hasan bin Ali dan Husain bin Ali – cucu Nabi
Muhammad dari Ali dan Fatimah) (http://fokus.news.viva.co.id/news/read/347784--Syiah-diakui-negara-indonesia-)
Muhammad
Husain Attabi’i dalam bukunya “Syiah Islam” memberikan pengertian bahwa Syiah
adalah kaum muslimin yang menganggap penggantian Nabi Muhammad Saw
adalah merupakan hak istimewa yang dimiliki oleh keluarga nabi dan mereka yang dalam bidang pengetahuan
dan kebudayaan Islam mengikuti ahlul bait (Husayn Attabi’i, 1989 : 32).
Qurais
Shihab dengan mengutip pendapat Ali Muhammad al-Jurjani mendifinisikan bahwa Syiah,
yaitu mereka yang mengikuti Sayyidina Ali ra dan percaya bahwa beliau adalah
Imam sesudah Rosul saw. Dan percaya bahwa imamah tidak keluar dari beliau dan
keturunannya. Pendapat shihab ini lebih mencerminkan sebagian dari golongan
dalam Syiah-untuk sementara ini dapat diterima karena telah mencerminkan
definisi untuk kelompok Syiah terbesar yaitu Syiah Itsna Asyariyah. (Shihab
2007)
C. METODE PENELITIAN
Penelitian ini secara teknis merupakan penelitian kepustakaan (library recearch) yang mengandalkan
sumber-sumber data tertulis. Data diperoleh dengan cara menelaah informasi yang
berkaitan dengan Syiah yaitu meliputi primer yaitu buku-buku yang mengulas
paham Syiahdalam ranahsejarah, ajaran dan perkembangannya; serta data-data
sekunder yang diperloleh dari media internet. Analisis data dilakukan secara
kualitatif dengan teknik analisis kritis melalui metode berfikir deduktif-induktif.
D.
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
Asal Muasal Ajaran Syiah
Syiah
adalah kenyataan sejarah umat Islam yang terus bergulir.Lebih dari 1000 tahun Syiah
mengalami perjalanan sejarah, tidak serta merta hadir dipanggung perdebatan dan
konflik sosial seperti saat ini. Sepanjang sejarah itu, konflik Syiah selalu
ada dalam dimensi-dimensi waktu yang berbeda dengan segala pernik persoalan.
Kapan Syiah itu muncul, juga mengalami pertentangan. Ada yang menilai bahwa Syiah
sebenarnya adalah kelompok sempalan Islam buatan orang Yahudi, Abdullah bin
Saba’. Abdullah bin Saba’ sang Yahudi dituduh sengaja membentuk kelompok baru
dalam Islam untuk memecah belah dan menghancurkan umat Islam.
Kelompok
yang sependapat Syiah adalah rekayasa dari Abdullah bin Saba’ yaitu dari
kelompok Sunni. Sirajuddin Abas dalam bukunya I’itiqad Ahulssunnah Wal-Jamaah menguraikan bahwa Abdullah bin
Saba’ adalah pendeta Yahudi dari Yaman yang sengaja masuk Islam. Sesudah masuk
Islam lantas ia datang ke Madinah pada akhir masa kekuasan Khalifah Saidina
Utsman bin Affan, yaitu sekitar tahun 30 H. Akan tetapi hijrahnya Abdullah bin
Saba’ tidak mendapat sambutan dari kaum muslimin,sehingga ia dendam dan
berupaya menghancurkan Islam dari dalam dengan cara mengagung-agungkan
Sayyidina Ali (Sirajuddin Abbas,1992).
Pendapat
yang menyatakan bahwa paham Syiah adalah buatan Yahudi, mendapat pertentangan dari
pemikir Islam yang lain. Quraish syihab dengan jelas menyebutkan bahwa pendapat
yang menyatakan Syiah adalah buatan (rekayasa) Yahudi adalah tidak logis.Menurut
Syihab, Yahudi tidak mungkin dapat mempengaruhi sahabat-sahabat Nabi saw.
Syihab menilai bahwa tokoh Abdullah bin Saba’ sama sekali tidak pernah ada, ia
adalah tokoh fiktif yang sengaja diciptakan oleh kelompok yang anti Syiah
(Syihab 2007).
Dilihat
dari data sejarah, jika yang dimaksud dengan Syiah adalah kelompok yang
mendasarkan paham keagamaan pada Ali bin Abu Tholib dan keturunannya (ahlul ba’it) maka cikal bakal kemunculan
kelompok Syiahsudah ada sejak terjadi sejak awal kepemimpinan Islam pasca kerosulan
Muhammad. Kemnculan kelompok Syiah dipicu oleh perbedaan pandangan dikalangan
para sahabat nabi denganahlul bait
(keluarga nabi) tentang siapa yang menggantikan kedudukan nabi setelah
meninggalnya.
Setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai kholifah, muncul fakta ada sebagian
dari umat yang Islam pendapat bahwa sebenarnya Ali bin Abu Tholib-lah yang
berhak memegang tapuk pimpinan Islam pada waktu itu. Kepercayaan
ini berpangkal pada pandangan tentang kedudukan Ali dalam hubungannya dengan Nabi, para sahabat
dan kaum muslimin umumnya. Ali adalah orang terdekat nabi, sebagai menantu dari
anaknya, Aisah. Dalam perjuangan Islam, Ali juga tidak diragukan lagi
pengorbanannya. Kuatnya keyakinan kelompok pendukung ali peristiwa Ghodir Khumm setelah menjalankan haji
terakhir, nabi memerintahkan pada Ali sebagai penggantinya dihadapan umat
muslim, dan menjadikan Ali sebagai Nabi sendiri, sebagai pelindung
mereka(Tabbathaba’i, 1989).
Akan tetapi yang terjadi tidak seperti yang diinginkan oleh kelompok Syiah.
Menurut kalangan Syiah, ketika nabi wafat pada saat jasatnya terbaring belum
dikuburkan, ada kelompok diluar ahlul
bait berkumpul untuk memilih kholifah bagi kaum muslimin, dengan alasan menjaga kesejahteraan umat dan
memecahkan problem sosial saat itu. Mereka melakukan itu tanpa berunding dengan
ahlul-bait yang sedang sibuk dengan acara pemakaman. Sehingga ali dan
sahabat-sahabatnya dihadapkan kepada suatu keadaan yang sudah tidak mungkin
diubah lagi, ketika Abu Bakar didaulat menjadi kholifah pertama. (Thabathab’i, 1989
: 39)
Ali bin Abu Tholib pada waktu itu cukup bersabar untuk menunggu saat yang
tetap sampai pada pergantian kholifah yang ketiga, Usman. Pada kepemimpinan
tiga kholifah tersebut, kelompok Ali (ahlul bait) merasa diperlakukan dengan
tidak adil seperti pemotongan khums (harta
rampasan) dan dilarangnya penulisan hadist sejak pemerintahan
khulafaur-rasyidin hingga masa Umayyah dan baru berhenti pada masa Umar ibn
Abdul Aziz yang memerintah tahun 99 H/717 M. (Thabathab’i, 1989 : 44)
Kepemimpinan
Usman yang dinilai lemah, membuat banyak kesulitan yang harus hadapi Ali ketika
memimpin pemerintahan Islam. Semasa pemerintahan Ali, pembrontakan demi
pembrontakan terus terjadi akibat dari intrik yang dilancarkan oleh kelompok
Mua’wiyah. Sampai pada akhirnya Ali harus mati terbutuh ditangan kelompok Khawarij. Keinginan yang kuat dari
kelompok Muawiyah untuk menguasai pemerintahan Islam tidak pernah surut.
Muawiyah terus menjalankankan aksi-aksinya untuk menyingkirkan kekuasaan dari
kelompok Ahlul Bait. Sampai pada akhirnya, Imam Hasan putra Ali menyerahkan
kekuasaanya pada Muawiyah karena Hasan tidak menginginkan adanya pertumpahan
darah lagi.
Saat
yang paling sukar bagi kelompok Syiah adalah dua puluh tahun masa kekuasaan
Muawiyah. Kaum Syiahpada waktu itu tidak memiliki perlindungan, dan kebanyakan
dari kaum Syiah dikejar-kejar oleh pemerintah. Keluarga Imam Hasan dan Husain
mati dibunuh dengan kejam, dibantai dengan seluruh pembantu dan anak-anaknya.
Penderitaan kelompok ahlul ba’itsemasa
pemerintahan Muawiyah inilah yang menguatkan perjuangan kelompok Syiah menjadi
sebuah paham/aliran untuk terus bertahan
menentang penguasa yang berbuat tidak adil dan aniaya. (Shihab, 2007 : 63-69; Thabathab’i, 1989 : 45-61)
Aliran Dalam Syiah
Syiah
menurut Shihab dengan mengutip pendapat Al-Baghdadi (wafat 429 H) pengarang
kitab al-farqu baina al-firaq,
membagi Syiah dalam empat kelompok besar yaitu Zaidiyah, Ismailiyah, Isna
‘Asyarirah, Ghulat (ekstremis).Munculnya berbagai macam golongan Syiah
disebabkan oleh karena pebedaan prinsip keyakinan dan berbedaan dalam hal
pergantian Iman, yaitu sesudah Imam al-Husein,
Imam ketiga, sesudah Ali Zaenal Abidin, imam keempat dan sesudah Ja’far Sadiq,
Imam keenam (Raszidi, 1984; Shihab, 2007: 66)
Perpecahan
Syiahpertama terjadi sesudah kepemimpinan Imam Husein oleh karena perbedaan
pandangan siapa yang lebih berhak menggantikan pucuk kepemimpinan imam. Sebagain
pengikut beranggapan bahwa yang berhak memegang
kedudukan imam adalah putra Ali yang lahir tidak dari rahim Fatimah,
yaitu yang bernama Muhammad Ibn Hanifah. Sekte ini dikenal dengan nama
Kaisaniya. Sedang golongan lain berpendapat bahwa yang berhak menggantikan
Husein adalah Ali Zaenal Abidin bin Husain. Golongan yang kedua ini (pendukung
Ali Zaenal abidin) merupakah kelompok yang menjadi cikal bakal dari kelompok
Zaidiyah.
Setelah
kematian Ali Zaenal Abidin, Sekte Zaidiyah
terbentuk. Golongan Zaidiyah mengusung Zaid sebagai imam ke lima
pengganti Ali Zaenal Abidin. Zait sendiri adalah seorang ulama terkemuka dan
guru dari Imam Abu Hanifah dan merupakan keturunan Ali bin Abi Tholib dari sanatAli Zaenal Abidin bin Husain. Syiah
Zaidiyah adalah golongan yang paling moderat dibandingkan dengan sekte-sekte
lain dan paling dekat dengan paham keagamaannya dengan aliran Ahlus Sunnah Wal
Jama’ah. Pengikut kelompok Zaidiyah banyak
terdapat di Zaman. (Shihab 2007 : 82; Rasyidi, 84 :52)
Kekejaman
semasa dinasti Muawiyah terhadap kelompok ahlul
ba’it, menjadikan sebagian dari kelompok Syiah memilih untuk berdian diri
dari dunia politik dengan cara melakukan taqiyah(berbohong
untuk menyelamatkan keyakinan). Akan
tetapi usaha ini dinilai tidak membuahkan hasil. Para penguasa diluar kelompok ahlul ba’it tetap saja memerangi penganut
Syiah. Sehingga kelompok Syiah Zaidiyah lebih memilih dakwah secara
konfrontatif dengan penguasa. Mereka (kelompok zaidiyah) merujuk kepada
Sayyidina Ali ra. (Imam Pertama) dan Sayyidina al-Husain (Imam ketiga) sebagai
panutan untuk melakukan perlawanan meski hanya dengan kekuatan sedikit (lemah).
Syiah
Zaidiyah menetapkan bahwa imamah dapat diberikan kepada siapapun yang memiliki garis keturunan
sampai dengan Fathimah, putri Rasul baik
dari putra Hasan bin Ali maupun Husain, selama yang bersangkutan memiliki
kemampuan secara keilmuan, adil, dan berani melawan kezaliman dengan cara
mengangkat senjata. Bahkan kelompok Zaidiyah membenarkan adanya dua atau tiga imam
dalam dua atau tiga kawasan yang berjauhan dengan tujuan untuk melamahkan
kelompok musuh (penguasa yang zalim).
Sekte
Ismailiyah danIsna ‘Asyarirah dapat digolongkan dalam Syiah Imamiyah, karena
keduanya mengakui bahwa pengganti Ali Zaenal Abidin (imam keempat) adalah Abu
Ja’far Muhammad Al-Baqir (Imam kelima). Terpecahnya Syiah Imamiyah menjadi dua
yaitu Ismailliyah dan Isna “asyariyah terjadi setelah wafatnya Abu Abdullah Ja’far
Sadiq (imam keenam) pada tahun 148 H. Sekte
Ismailiyah menyakini bahwa Ismail, putra Imam Ja’far ash-Shadiq, adalah
imam yang menggantikan ayahnya sebagai imam ke tujuh. Ismail sendiri telah
ditunjuk oleh Ja’far Sodiq, namun Ismail wafat mendahuli ayahnya. Akan tetapi
satu kelompok pengikut tetap menganggap Ismail adalah Imam ke tujuh.
Dalam
beberapa riwayat, dikemukakan bahwa Imam Ja’far telah berupaya untuk
menyakinkan kelompok Syiah yang menyakini Ismail belum wafat. Akan tetapi masih
saja ada yang menyakini sehingga ada kelompok yang berbeda dari pengikut Imam
Ja’far. Ismailiyah disebut juga dengan Syi’ah Sab’iyah (Syiah tujuh) kerena
mereka menyakini tujuh Imam semenjak Sayyidina Ali ra dan berakhir pada
Muhammad, putra Ismail. Syiah Ismailliyah juga diberi gelar dengan
al-Bâthiniyah, karena kepercayaan bahwa al-qur’an dan sunnah mempunyai makna
lahir dan makna bathin (tersembunyi).Syiah Ismaillnya ini pada masa-masa
setelah Imam Ja’far mengalami banyak cabang, diantaranya : kelompok Druz,
Ismailliyah Nizary, Ismailliyah Musta’ly. (Shihab 2007 : 73-78)
Kelompok
lain dari golongan Syiah Imamiyah adalah Syiah Isnâ ‘Asarîyah atau lebih
dikenal dengan Imâmiyah atau Ja’fariyah, atau kelompok Syiah imam dua belas. (Syihab, 2007 : 83) Kelompok
ini mempercayai pengganti Ja’far Shodiq adalah Musa Al-Kadzam sebagai imam
ketujuh bukan Ismail saudaranya. Kelompok Syiah inilah yang jumlahnya paling
banyak (mayoritas) dari kelompok Syiah yang ada sekarang. Sehingga banyak
sekali tuduhan yang dinilai bersebrangan dengan kelompok Sunni seperti :
menganggap Abu Bakar merampas jabatan dari Ali, memberikan kedudukan kepada Ali
setingkat lebih tinggi pada manusia yang memiliki sifat ketuhanan, percaya
bahwa imam itu ma’sum(terbebas dari
dosa), menghalalkan nikah mut’ah,
tidak mengakui Ijma’ dan tuduhan lain yang pandang menyimpang dari ajaran
Islam. (Rasyidi, 1984 : 54-56)
Syiah
Ghulat merupakan kelompok ekstrim dari paham Syiah. Kelompok ekstrim dinilai
sebagai kelompok yang keluar dari Islam sehingga keberadaaanya ditolak oleh
mayoritas umat Islam dan saat ini telah punah.
Kelompok paham Syiah yang termasuk Ghulat diantaranya As-sabaiyah yaitu
pengikut-pengikut abdullah bin Saba’.
Al-Khaththâbiyah,
mereka adalah penganut paham Ghulat yang disebarkan oleh Abu al-Khaththâb
al-Asady. Kelompok Al-Khaththâbiyah menyatakan bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq dan
keluhurnya adalah Tuhan. Imam Ja’far sendiri menolak dirinya dianggap sebagai
Tuhan. Kelompok ini dalam
perkembangannya sejarahnya juga mengalami perpecahan dalam
kelompok-kelompok kecil yang berbeda-beda. Sebagian diantaranya adalah mereka
percaya bahwa dunia ini kekal, tidak akan binasa, surga adalah kenikmatan
dunia, mereka tidak mewajibkan salat dan membolehkan minuman keras.
Kelompok
lain yang masuk dalam golongan ektrim yaitu Al-Qurabiyah. Kelompok
Al-Ghurâbuyah memiliki ajaran yang sangat bertentangan dengan Islam.
Al-Ghurâbiyah memandang bahwa sebenarnya malaikat jibril mengalami kekeliruan
dalam menyampaikan wahyu karena berkhianat terhadap Allah, sehingga wahyu yang
seharusnya diberikan kepada ali justru jatuh pada Nabi Muhammad.
Al-Qarâmithah
merupakan kelompok yang sangat keras dan ekstrem. Kelompok Al-Qarâmithah
pempercayai bahwa sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan; bahwa setiap teks
yang ada dalam al-Qur’an memiliki makna lahir dan bantin, dan yang terpenting
adalah makna batinnya. Mereka menganjurkan kebebasan seks dan kepemilikan
perempuan dan harta secara bersama-sama dengan dalih mempererat hubungan
kasih-sayang.
Kelompok
Al-Qarâmitah bahkan pernah menyerbu dan menguasi makkah pada tahun 930 M dengan
melukai para jamaah haji. Al-Qarâmithah beranggapan bahwa ibadah haji adalah
sia-sia karena dinilai sebagai bentuk perbuatan jahiliyah, berthawaf dan mencium Hajar al-Aswat adalah
perbuatan syirik. Karenanya mereka merampas Hajar al-Aswat. Kelompok Syiah
Al-Qarâmitah akhirnya dikalahkan oleh al-Mu’iz al-Fâthimy ketika melakukan
penyerbuan ke Mesir pada tahun 972M, lalu punah sama sekali di Bahrain pada
1027 M. (Syihab, 2007 : 70-73)
Perkembangan Syiahdi Indonesia
Menurut Jalaluddin
rahmat, tokoh Syiah Indonesia, perkembangan Syiah di Indoensia terdapat empat
gelombang (periodesasi). Gelombang pertama, berpendapat Syiah sudah masuk
keindonesia sejak masa awal masuknya Islam di Indonesia melalui para penyebar
Islam awal, yaitu melaui orang-orang persia yang tinggal di Gujarat. Syiah
pertama kali datang ke Aceh. Raja pertama Kerajaan Samudra Pasai yang terletak
di Aceh, Marah Silu, adalah memeluk
Islam versi Syiah dengan memakai gelar Malikul Saleh.Tapi kemudian pada zaman
Sultan Iskandar Tsani, kekuasaan dipegang oleh ulama Ahli Sunnah (Sunni). Saat
itu orang Syiah bersembunyi, tak menampakkan diri sampai muncul gelombang kedua
masuknya Syiah ke Indonesia, yaitu setelah revolusi Islam di Iran (Viva News,
2012).
Ulama ternama Asal
Aceh, Abd al-Ra'uf Al-Sinkli, yang hidup pada Abad ke adalah pengikut dan penggubah sastra Syi'ah. Pendapat ini juga dikuatkan dengan temuan beberapa
kuburan yang mencerminkan kuburan Syiah, terutama diwilayah Gresik Jawa Timur.Pada
Tahap awal ini Syiah tidak mengalami benturan dengan kelompok lain, karena pola
dakwah yang dilakukan secara sembunyi. Selama periode pertama, hubungan antara Sunni-Syiah
di Indonesia, pada umumnya, sangat baik dan bersahabat tidak seperti yang
terjadi di negeri-negeri lain seperti, misalnya, Pakistan, Irak, atau Arab
Saudi.(http://www.abna.ir/print.asp?lang=1&id=198093)
Karena persebaran Syiah
di Indonesia yang sudah berlangsung lama, maka ada beberapa ritual dalam
tradisi Syiah yang mempengaruhi pola ritual keagamaan di kalangan komunitas
Islam Indonesia. Salah satunya ialah praktik perayaan 10 Muharram yang biasa
dirayakan oleh pengikut Syiah untuk memperingati terbunuhnya Husain ibn Ali,
cucu Nabi Muhammad. Husein terbunuh dalam Perang Kabala pada 10 Muharram 61 H.Sebagai
contoh, terdapat perayaan serupa yang disebut dengan “tabot tebuang”. Di
Pariaman, Sumatera Barat, dan ada perayaan “ritual tabuik”.
Jika ditelusuri Tabot
atau tabuik berasal dari kata tabut dalam bahasa Arab kotak.
Kata tabut ini dalam peraaan
diwujudkan dengan peti sebagai simbol peti
jenazahnya imam-imam kaum Syiah yang telah dibunuh secara kecam semasa
pemerintahan Bani Umayyah. (Dahri, 2009; Tempo, Senin, 03 September 2012)
Ritual dikalangan sunni
seperti tradisi ziarah kubur dan membuat
kubah pada kuburan adalah tradisi Syi'ah. Tradisi itu lahir di Indonesia dalam
bentuk mazhab Syafi'i padahal sangat berbeda dengan mazhab Syafi'i yang
dijalankan di negara-negara lain. Berkembangnya ajaran pantheisme (kesatuan
wujud, union mistik, Manunggal ing Kawula Gusti), di Jawa dan Sumatera
merupakan pandangan teologi dan mistisisme (tasawuf falsafi) yang sinkron
dengan aqidah Syiah(Nursaymsuriati, 2011).Infiltrasi Syiahdalam penyebaran
Islam di Indonesia mampak jelas pada masyarakat NU sebagai representasi
kelompok Alhusunnah, pengaruh tadisi Syi'ah pun cukup kuat di dalammya. Dr Said
Agil Siraj sebagai Wakil Katib Syuriah
PBNU secara terang mengatakan bahwa kebiasaan Barjanji dan Diba’i adalah
berasal dari tradisi Syiah.Dan bahkan KH Abdurrahman Wahid pernah mengatakan bahwa Nahdatul Ulama secara
kultural adalah Syi'ah. (Abna ir, 2012)
Lalu datanglah gelombang
kedua masuknya Syiah ke Indonesia, yaitu setelah revolusi Islam di Iran pada
1997. Gerakan revolusi yang mampu mengubah Iran dari monarki di bawah Shah
Mohammad Reza Pahlevi, menjadi Republik Islam di bawah pimpinan Ayatullah Agung
Ruhollah Khomeini. Ketika itu orang Syiah mendadak punya negara, yaitu Iran.Sejak
kemenanganSyiah pada Revolusi Iran, muncul simpati yang besar di kalangan
aktivis muda Islam di berbagai kota terhadap Syiah. Figur Ayatullah Khomenini
menjadi idola di kalangan aktivis pemuda Islam. Buku-buku tulisan Ali Shariati,
seperti “tugas cendekiawan Muslim” menjadi salah satu “inspirator” Revolusi
Iran, dibaca dengan penuh minat. Bahkan tokoh cendekiawan Muhammadiyah, Amin
Rais, dengan sengaja menterjemahkan dari versi bahasa Inggris ke Bahasa
Indonesia.
Naiknya popularitas Syiah itu membuat khawatir
dan was-was negeri yang selama ini menjadi “musuh” bebuyutan Iran, yakni Arab
Saudi. Melalui lembaga-lembaga bentukan pemerintah, Saudi Arabia melakukan upaya
untuk menangkal perkembangan Syiah, termasuk penyerbarannya di
Indonesia.Sejumlah buku yang anti-Syiah diterbitkan, baik karangan sarjana
klasik seperti Ibn Taymiyah (1263-1328), atau pengarang modern, seperti Ihsan
Ilahi Zahir, seorang propagandis anti-Syiah yang berasal dari Pakistan.
Dominasi kuat kelompok di luar syiah di Indonesia, berdampak pada reaksi yang ditunjukkan masyarakat Indonesia.
Masuknya faham Syiah di Indonesiadi cunter dengan penyebaran buku-buku yang
berisi informasi tentangSyiah yang bernada negatif atau menunjukan sikap
penolakan terhadap Syiah. Buku-buku yang beredar dimasyarakat pasca kemenangan
Syiah di Iran diantaranya:
1.
Mengenal pokok-pokok Ajaran Syiah al-Imamiyah dan
perbedaanya dengan Ahli Sunnah, penulis Sayyid
Muhibbudin Al-Khathib, penerjemah Munawwar Putra. Buku ini diterbitkan oleh Pt.
Bina Ilmu Surabaya Tahun 1984.
2.
Beberapa Kekeliruan Akidah Syiah, pengerang Muhammad Abdul Sattar Al-Tunsawi, ketua ahlus Sunnah Pakista.
Diterjemahkan oleh A. Radzafatzi. Penerbit PT. Aneka Ilmu Tahun 1984.
3.
Apa Itu Shiah? Ditulis oleh Prof. Dr. H.M. Rasyidi. Diterbitkan oleh Harian Umum Pelita Tahun
1984.
4.
Syiah dan Pemalsuan Al-Qur’an . Penulis DR. Moh, Malullah, diterjemahkan oleh Drs. Abdulkarim Hayaka,
diterbitkan oleh CV. Mustaka Mantiq, Solo.
5.
Hakekat Syiah, Penulis DR. Abdullah Muh. Gharib. Buku ini diterjemahkan oleh Mustafa
Mahdamy dan diterbitkan oleh CV. Pustaka Mantiq, Solo.
6.
Kebohonan Syiah Terhadap Ahli sunah, Penulis Sayyit Muhibin Al-Khotib, diterjemahkan oleh Drs. Tammam Qaulany.
Buku ini diterbitkan oleh Toko Kitab Utama Surabaya.
Meski
telah begitu banyak buku-buku diterbitkan, kekhawatiran masuknya Syiah tidak
juga surut. Pada Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1984
M, melalui surat ketetapan tanggal 7 Maret 1984 M yang ditandatangani oleh Prof. K.H. Ibrahim Hosen, merekomendasikan
tentang faham Syi’ah sebagai berikut: Faham Syi’ah sebagai salah satu faham
yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan
mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.Perbedaan
yang disebutkan dalam ketetapan MUI tersebut di antaranya:
1. Syi’ahmenolak hadits yang tidak diriwayatkan
oleh Ahlul Bait;
2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang
suci);
3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”;
4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan
kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama;
5.Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan
Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Ibnul Khatthab, dan Usman bin Affan;
Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah
dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai
perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis UlamaIndonesia
mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah
agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang
didasarkan atas ajaran Syi’ah. Kata-kata yang tertuang dalam keputusan MUI
tersebut, dengan jelas sebagai bentuk propaganda anti Syiah.
Setelah gelombang kedua,Syiah
masuk keindonesia pasca Revolusi Iran, ketertarikan paham pemikiran Syiah secara
falsafi berkembang menuju pemahaman Fikiyah. Menutut Jalaluddin Rahmat, masa
mulai tertariknya masyarakat untuk mempelajari fiqih Syiah disebut sebagai gelombang
ketiga penyebaran Syiah di Indonesia. Para peminat Syiah mulai belajar fiqih
dari habib-habib yang pernah belajar di Khum, Iran. Gelombang reformasi yang
terjadi pada tahun 1998 sebagai era keterbukaan dan kebebasan ikut mendorong daya
ketertarikan masyarakat pada ajaran Syiah. Karena pemahaman Syiah sudah masuk
ke ranah fiqih, muncullah perbedaan paham yang sudah mengarah pada benih-benih
konflik secara terbuka.
Tidak lama setelah
gelombag ketiga, Syiah memasuki fase gelombang ke empat, yaitu ketika orang Syiah mulai membentuk ikatan,
yaitu Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), berdiri 1 Juli 2000.
Dengan semakin meningkatnya penganut Syiah, maka tingkat ketegangan
kelompok sunni dengan Syiah semakin meningkat. Perseteruan pertama terjadi pada
pesantren milik Ustad Ahmad, di Desa Brayo, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten
Batang, Jawa Tengah, 8 April 2000. Ketika itu, massa menyerbu pesantren seusai
salat Jumat, sekitar pukul 14.00 hingga 16.30. Akibatnya, tiga rumah di Pondok
Pesantren Al-Hadi dirusak dan satu dibakar massa.
Konflik kedua muncul di Bondowoso pada 2006. Sasaran serangan adalah
pesantren milik Kiai Musowir yang sedang sedang menggelar yasinan pada malam
Jumat. Penyerbuan kemudian terjadi lagi pada
rumah pengurus Masjid Jar Hum di Bangil, Jawa Timur, November 2007. Massa
merusak rumah itu lantaran menolak kehadiran pengikut Syiah.
Usaha menyerang penganut Syiah terjadi juga di Jember, Jawa Timur. Pada
bulan Ramadan, Agustus 2012, muncul sejumlah spanduk yang menyebutkan ajaran
habib Syiah adalah sesat. Namun kain propaganda itu berhasil diturunkan warga
dan petugas Pamong Praja sebelum memicu konflik.Dan pada tahun yang sama, kasus
Syiah di Sampang mencuat, yang berbuntut di hukumnya Tajul dengan tuduhan
penodaan agama.
E.
PENUTUP
Syiah adalah paham keagamaan yang menyandarkan pada pendapat Syaidina Ali
(kholifah ke empat) dan keturunannya yang muncul sejak awal pemerintahan khulafauurasidin. Syiah
berkembang menjadi puluhan aliran-aliran karena perbedaan paham dan perbedaan
dalam mengangkat Imam.
Perkembangan syiah di Indonesia melalui empat tahap gelombang, yaitu:
Pertama, bersamaan dengan masuknya Islam di Indonesia; Kedua, pasca revolusi
Islam Iran; Ketiga, Melaui Intelektual Islam Indonesia yang belajar di Iran;
dan Empat, Tahap keterbukaan melaui Pendirian Organisasi Ikatan Jamiah Ahlul
Bait Indoensia.
Secara prisnsip tulisan ini tentu sangat singkat bila dibandingkan dengan luasnya problematika perkembangan Syiah di Indonesia. Apalagi penelitian ini
dilakukan berdasarkan data-data tertulis semata. Sehingga hanya bisa menjawab
persoalan-persolan secara tekstual. Persoalan Riil Syiah memiliki kompleksitas
masalah dengan latar belakang sosial rumit, tidak semata-mata lahir dari
perbedaaan ideologi. Oleh karena itu tulisan ini tidak dimaksudkan untuk
mencari solusi persoalan Syiah di Indonesia. Akan tetapi hanya memberikan
sedikit gambaran tentang paham Syiah secara ideologi dan penyebarannya di
Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Allamah Sayyid Muhammad Husayn
Thabathaba’i. 1989. Islam Syiah : Asal-Usul dan Perkembangannya. Diterjemahkan
dari Syi’ite Islam. Penerjemah : Djohan EfFendi. Jakarta : Pustaka Utama
Grafiti
Atjeh, Aboebakar. 1977. Aliran Syiah
di Indonesia. Jakarta : Islamic`Recearch Institute.
Azra, Azyumardi. 1995. Syiah di
Indonesia:Antara Mitos dan Realitas. Jurnal Ulumul Qur’an No.4 Vol VI.
Dahri, Harapandi. 2009. Tabot : Jejak Cinta Keluarga Nabi di
Bengkulu.Jakarta : Citra
Huda, Nur. 2007. Islam Nusantara :
Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia. Yogjakarta : Ar-ruzz Media.
Nursaymsuriati. 2011. Berkelanjutan
dan Perubahan Tradisi Keagamaan Syiah (Studi Masyarakat Santri YAPI Bangil
Pasuruan. Thesis Pasca Sarjana UIN Malang
PT. Ikhtiar Baru Van Hoekl. 1997.Ensiklopedi
Islam, Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoekl
Shihab, M. Quraish. 2007. Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah : Kajian Atas
Konsep Ajaran dan Pemikiran. Tangerang : Lentera Hati
Sirojuddin Abbas. 1992. I’itiqad Ahlussunnad Wal-Jama’ah.
Jakarta : Pustaka Tarbiyah.
Viva News. 2012. Syiah Diakui Negara
Indonesia. http://fokus.news.viva.co.id/news/read/347784--Syiah-diakui-negara-indonesia-. Diakses 6 September 2012.