Kamis, 12 Februari 2015

Jiwa : Potensi Terbesar Manusia

Banyak sekali ahli mencoba untuk meneliti hubungan antara jiwa dan badan dengan segala potensi yang tersembunyi dibaliknya. Orang yang pertama-tama memperhatikan secara serius hubungan jiwa dengan badan yaitu Plato. Plato menemukan bahwa  keberadaan jiwa pada hakekatnya jauh lebih dahulu ada di bandingkan badan. Jiwa adalah subtansi yang berbeda dengan badan.Keberadaan jiwa dalam badan  tak ubahnya sebagai penjara. Jiwa akan diakui keberadaaanya ketika Jiwa mampu meningggalkan esistensinya. Teori ini dikenal dengan teori dualism jiwa.
Teori dualisme jiwa Plato, selanjutnya ditolak sendiri oleh muridnya yaitu Aristoteles.Dia berpendapat bahwa, setiap makhluk hidup adalah sesuatu yang satu yang merupakan satu substansi saja.Akibatnya jiwa bukanlah suatu substansi tersendiri. Jiwa tidak bisa bereksistensi terpisah dari badan. Adanya jiwa tidak bisa lepas dari badan, begitu juga sebaliknya. (
Di dunia Barat, pada masa renaisantampil tokoh-tokoh  pembaharu pemikiran seperti Rene Descartes (1596-1660 M) yang terkenal dengan perkataannya “Cogito Ergo Sum” (Saya berfikir, karena itu saya ada).Pemikiran Descartesini semakinmenguatkan pemikiran tentang keberadaan Jiwa ada hubungannya dengan badan dalam bentuk kesadaran diri.Jiwa hadir dalam diri manusia karena kemampuan manusia dalam berfikir.Dengan berfikir, Jiwa mendapatkan pasokan energi untuk tampil dalam layar kehidupan manusia.
Dari pemikiran ini muncul sebuah pertanyaan, mana yang lebih penting, jiwa atau badan.Bagi para pemikir materialism seperti Ludwig Feuerbach (1804-1872) mengatakan bahwa tubuh manusia tidak lebih hanya sebuah materi kebendaan. Adanya tanda-tanda aktifitas   rohaniah pada diri manusia itu semata-mata karena efek kimiawi sebuah materi. Lebih mudahnya Jiwa dapat di ibaratkan sebagai efek listrik dari sebuah bongkahan batu AKI.
Materialism Feurbach meniadakan campurtangan Tuhan terhadap wujud materi yang ada di alam raya ini.Materi itu ada semata-mata hanya sebagai hukum alam (alamiah) yang dipengaruhi oleh evolusi, yaitu perubahan bertahap dari sederhana menjadi ideal (sempurna).
Pendapat Feuerbach, mendapat banyak kritik dan pertentangan dari para filosof lain.Filosof Irlandia, George Berkeley (1685-1753 M) menolak tubuh manusia sebagai yang utama dari hakekat sebuah kebendaan. Bagi Berkeley, tidak bisa dipungkiri adanya tubuh adalah bersifat materi akan tetapi, esitensi tubuh tidak akan memiliki makna tanpa adanya Jiwa yang bersumber dari keberadaan akal. Sehingga semua yang wujud semata-mata hanyalah pengalaman jiwa.Jiwa menjadi  titik aktifitas segala sesuatu. Jiwa bertindak sebagai subjek, dan badan tak ubahnya hanya cerminan dari yang tersembunyi, yaitu jiwa.[3].
Sekarang coba kita lihat, fakta hidup yang kita jalani. Begitu kita lahir, kita tidak pernah mengetahui existensi diri kita, kita tidak pernah tahu diri kita, tidak bisa tahu, dan merasakan hembusan udara pertama kali yang kita hirup, tidak bisa merasakan sedih atau bahagia, memiliki keinginan, kita tidak pernah tahu apa-apa, jiwa kita terasa kosong tidak terisi.
Dalam pandangan Islam, Jiwa lahir bukan karena pikiran, meskipun jiwa dirasakan keberadaanya setelah tumbuh kembangnya pikiran. Jiwa ada jauh sebelum akal manusia tumbuh menjadi sempurna. Allah sudah menyiapkan Jiwa dalam bentuk benih yang disemaikan dalam sebuah lahan di dalam tubuh. Penyemaian Jiwa dilakukan bersamaan dengan di tiupkannya ruh pada jasat manusia ketika masih dalam bentuk bayi di dalam kandungan.
Seiring dengan bertambahnya usia kandungan, lahan jiwa itu diolah oleh orang tua kita, terutama ibu dengan tingkahlaku kesehariannya. Ladang jiwa setiap saat dicangkul dengan amal perbuatan keseharian mereka. Perbuatan yang baik, ibarat pupuk yang menyuburkan dan perbuatan yang penuh dengan kejahatan, ibarat racun yang mencemari ladang. Meskipun kita masih dalam kandungan ibu, perbuatan orang-orang terdekat yaitu ibu dan bapak sudah mampu memberikan pengaruh pada tumbuh kembangnya kepribadian seorang anak.
Kecambah jiwa tumbuh secara perlahan-lahan seiring dengan tumbuh kembangnya akal manusia. Ketika kita lahir kedunia, kecambah jiwa pun belum bersemi, kita masih tidak tahu apa-apa tentang diri kita, jiwa kita masih kosong. Sehingga, dapat diibaratkan bayi manusia tidak beda dengan bayi gorilla, hanya mengikuti naluri untuk sekedar bertahan hidup, seperti menangis untuk meminta air susu. Jiwa yang masih kosong itu belum bisa diminta pertanggungjawaban. Oleh karena itulah, Allah tidak meminta pertangungjawaban seorang bayi atau anak yang belum dewasa, atas perbuatannya.
Masa-masa awal tumbuhnya jiwa masih sangat didominasi oleh nafsu (insting), seperti keinginan-keinginan anak kecil yang sulit untuk dicegah, ingin menang sendiri dan harus dituruti segala keinginannya.
Selanjutnya, orang tua kita dan lingkungan dimana kita tinggal sedikit-demi sedikit memberikan pendidikan pada kita. Memori akal mulai terisi dengan data dan fakta-fakta. Otak secara perlahan mulai dapat bekerja dengan logika yang sederhana, terus berkembang sampai pada penguasaan logika yang rumit.
Awal hidup manusia yang masih bayi  tidak bisa membedakan situasi bahaya atau aman, sehingga panasnya api bagi anak kecil tidak sesuatu yang menakutkan. Saat manusia bayi pertama bisa menerima kesan kehidupan, saat mulainya kecambah jiwa kita tumbuh. Seiring dengan miningkatnya kemampuan berfikir dan merasa, lahan jiwa yang kosong itu mulai tumbuh seperti kecambah. Ibarat  kertas kosong, jiwa sudah tergambar jelas tabiatnya, dari penerimaan kesan dari orang-orang sekitar, respon terhadap kejadian alam lingkungan, dan kemampuan ilmu pengetahuan yang dimiliki.
Dari hari kehari, penggambaran jiwa semakin lengkap seiring dengan tingkat perkembangan akal dan kedewasaan manusia.Dan seiring dengan kedewasaan usia, otak semakin tumbuh sempurna, dan jiwa kita mulai bisa merasakan sedih, bahagia, penyesalan, rasa berdosa, dan bangga. Manusia mulai mampu membedakan mana yang memberikan manfaat dan mana yang memberikan madorot, mana perbuatan dosa dan mana perbuatan yang mendatangkan pahala. Dan anak mulai tumbuh rasa malu apabila melakukan sebuah kesalahan atau perbuatan yang tidak sesuai dengan norma agama.
Pada Masa Baligh (tamzis), kecambah jiwa telah tumbuh dengan sempurna, dengan batang yang kuat dengan ranting-rangting bercabang lebat. Setelah tumbuh sempurna inilah, tinggal bagaimana manusia menghias jiwanya dengan amal perbuatan yang sholeh atau sesat.Jiwa yang sempurna sudah mampu untuk mengemban amanah, yang dipertanggungkan jawab dihadapan Tuhan.
Manusia yang tumbuh pada lingkungan yang baik, akan menguatkan potensi jiwa yang luhur, sebaliknya jiwa yang berada pada badan yang tumbuh pada lingkungan yang penuh dengan kejahatan, akan menguatkan potensi jiwa yang kearah kesesatan.
Oleh karena itu gambaran jiwa pada tubuh manusia bisa berubah-ubah sesuai dengan amal perbuatannya. Jiwa yang berada pada tubuh dengan amal perbuatan yang buruk dan penuh dosa, akan dipenuhi dengan noktah hitam, sebaliknya jiwa yang tumbuh pada badan dengan amal perbuatan yang baik akan tumbuh dengan keluruhan budi dan kebahagiaan, sampai hari pembalasan diakhirat.
Situasi kejiwaan yang digambarkan diatas itu sejalan dengan pandangan al-Ghazali tentang Jiwa. Dalam pandangan Al-Ghazali, Jiwa dan badan dipandang memiliki hubungan saling menerima kesan.Jiwa yang bersih akan membawa dampak yang positif bagi perbuatan-perbuatan anggota badan, perilaku badan yang menimbukan kesan kebaikan, maka akan tumbuhlah kebaikan dalam jiwa, berupa tingkah laku yang baik dan akhlak yang diridhai oleh Allah.
Oleh karena itulah, kesadaran jiwa menjadi penentuan baik buruknya amal perbuatan manusia. Sehingga dalam ajaran Islam, niat yang tumbuh dari hati nurani atau jiwa yang tulus yang menjadi penentu amal perbuatan manusia. Niat menjadikan nilai perbuatan manusia menjadi bermakna dan yang menjadikan perbuatan itu di hitung oleh Allah sebagai amal. Amal yang baik mendapatkan pahala, dan amal yang buruk mendapatkan balasan siksa. Tanpa adanya niat, kesempurnaan amal tidak akan pernah dicapai, karena tidak ada kesadaran diri yang mampu memberikan kesan postif pada Jiwa.
Dari pendapat Al-Ghazali ini dapat dipahami, bahwa hubungan antara badan dan jiwa adalah hubungan yang saling mempengaruhi, kebaikan perilaku badan dengan segala keberadaanya menentukan keadaan jiwa. Jiwa yang telah ada juga pada akhirnya menentukan pula perilaku badan.Ujung pangkal dari gambaran jiwa adalah perbuatan manusia itu sendiri, karena disinilah letak tanggungjwawab manusia yang akan dimintai pertangungjawaban di akhirat kelak.
Dari ungkapan tersebut memuat sebuah konsep, bahwa bahwa tingkah laku manusia itu sangat ditentukan oleh keadaan jiwanya dalam relasi horisontalnya dengan alam atau lingkungan dan relasi transendentalnya dengan Tuhan. Hal ini berarti unsur rohaniah (kejiwaan) manusia dipandang sebagai subtansi yang sangat menentukan keadaan perbuatan jasmani. Begitu pula sebaliknya, kebiasaan-kebisaan amal perbuatan keseharian manusia juga menjadi membentuk karakter kejiwaan manusia. Amal perbuatan yang selalu mengedepankan akhlakul karimah, akan membentuk pribadi dengan jiwa keluhuran, dan sebaliknya amal perbuatan yang penuh dengan angkara murka, akan membenguk jiwa menjadi rusak dan kotor.
 Lalu pertanyaannya, mengapa manusia bisa melakukan tindakan baik dan tindakan yang buruk? Padahal Allah memberikan potensi yang sama pada setiap manusia, karena tidak mungking Allah tidak berbuat adil terhadap mahluknya.
Untuk menjawab pertanyaan itu, ulasan tentang akal penjadi jawabannya. Sebab akal merupakan sarana bagi manusia untuk memilih tindakan yang akan dilakukan.Akal dapat diibaratkan sebuah filter yang menentukan apakah manusia mengikuti hati nuraninya yang senantiasa menuju sebuah kebenaran ataukah condong pada hawa nafsunya yang condong kepada kerusakan.
Akal manusia yang berfikir, menentukan perilaku dan amal perbuatanya. Namun demikian, akal dengan kemampuan berfikirnya juga bisa di tanggalkan sama sekali oleh manusia, manusia bisa saja menuruti kemauan hati nuraninya, dan juga sebaliknya, manusia menuruti saja kemauan hawa nafsunya.
Oleh karena itu, pendidikan menentukan peran penting dalam membantu akal mencapai kesewasaannya. Pendidikan akal ini dapat diperoleh dari lingkungan dimana tempat tumbuh kembangnya anak, maupun melalui lembaga-lembaga formal seperti sekolah atau madrasah. Anak yang senantiasa dibiasakan berperilaku baik dengan pendidikan yang baik akan tumbuh menjadi anak dengan jiwa yang baik.
Begitu juga sebaiknya, anak yang tidak memiliki pendidikan yang cukup untuk membentuk sebuah prilaku yang baik, maka anak akan tumbuh dalam kondisi jiwa yang buruk. Sehingga pada akhirnya mempengaruhi perilaku keseharinnya. Dan pada akhirnya kesehariannya ini akan melekat menjadi tabiat  dan kebiasaan atau karakter. Karakter akan sangat menentukan  dan  menjadi gambaran utama yang ada pada kondisi kejiwaannya.
Sebagai ciptaan yang sempurna dari pencipta yang maha sempurna, kelebihan manusia semakin lengkap dengan adanya kemampuan berfikir yang dimiliki oleh otaknya. Setiap mamalia yang diciptakan oleh Allah memiliki otak, tetapi hanya manusia yang kemampuan otaknya bisa berfikir jauh melibihi mamalia lain.
Disinilah letak kemandirian manusia dalam menentukan amal perbuatan untuk mengisi kehidupannya. Allah hanya semata-mata menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia sesuai dengan tangunggungjawab yang diemban manusiadi muka bumi, yaitu sebagai kholifah. Apakah manusia akan berbuat kerusakan dimuka bumi, atau memakmurkannya melalui cara-cara yang baik yang telah digariskan dalam pentunjuk kitab suci. Allah memberikan kebebasan manusia melalui berfikir sebelum bertindak. Dan hasil dari tindakan itu akan diminta pertangungan jawab oleh yang pencipta  di hari yang ditentukan, yaitu hari pembalasan.

Melihat potensi manusia yang sedemikian besar dan mulia ini, apakah kita akan sia-siakan. Masih banyak diantara kita yang tidak menyadari kebesaran kemampuan yang dimiliki oleh manusia, sehinga mereka memandang dirinya rendah. Padahal, dengan Jiwa yang dimiliki oleh manusia, manusia mampu menyentuh dimensi kerohanian, memasuki ruang-ruang spiritual yang memiliki kebenaran abadi. Dengan otak yang berfikir kita mampu mewujudkan apa yang kita inginkan (atas ijin dan ridlo Allah), dan dengan badan kita, mendapatkan fasilitas hidup yang sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Foto Pribadi

Foto Pribadi
Dengan berbagi maka akan menjadi lebih banyak