Banyak sekali ahli mencoba untuk meneliti hubungan antara jiwa dan badan
dengan segala potensi yang tersembunyi dibaliknya. Orang yang pertama-tama
memperhatikan secara serius hubungan jiwa dengan badan yaitu Plato. Plato
menemukan bahwa keberadaan jiwa pada hakekatnya
jauh lebih dahulu ada di bandingkan badan. Jiwa adalah subtansi yang berbeda
dengan badan.Keberadaan jiwa dalam badan
tak ubahnya sebagai penjara. Jiwa akan diakui keberadaaanya ketika Jiwa
mampu meningggalkan esistensinya. Teori ini dikenal dengan teori dualism jiwa.
Teori
dualisme jiwa
Plato, selanjutnya ditolak
sendiri oleh muridnya yaitu Aristoteles.Dia berpendapat bahwa, setiap makhluk hidup adalah
sesuatu yang satu yang merupakan satu substansi saja.Akibatnya jiwa bukanlah suatu substansi tersendiri. Jiwa tidak bisa bereksistensi terpisah dari badan.
Adanya jiwa tidak bisa lepas dari badan, begitu juga sebaliknya. (
Di dunia
Barat, pada masa renaisantampil tokoh-tokoh pembaharu
pemikiran seperti Rene Descartes (1596-1660 M) yang terkenal dengan
perkataannya “Cogito Ergo Sum” (Saya berfikir, karena itu saya ada).Pemikiran Descartesini semakinmenguatkan
pemikiran tentang keberadaan Jiwa ada hubungannya dengan badan dalam bentuk
kesadaran diri.Jiwa hadir dalam diri manusia karena kemampuan manusia dalam
berfikir.Dengan berfikir, Jiwa mendapatkan pasokan energi
untuk tampil dalam layar kehidupan manusia.
Dari
pemikiran ini muncul sebuah pertanyaan, mana yang lebih penting, jiwa atau
badan.Bagi para pemikir materialism seperti Ludwig Feuerbach (1804-1872)
mengatakan bahwa tubuh manusia tidak lebih hanya sebuah materi kebendaan.
Adanya tanda-tanda aktifitas rohaniah
pada diri manusia itu semata-mata karena efek kimiawi sebuah materi. Lebih
mudahnya Jiwa dapat di ibaratkan sebagai efek listrik dari sebuah bongkahan
batu AKI.
Materialism
Feurbach meniadakan campurtangan Tuhan terhadap wujud materi yang ada di alam
raya ini.Materi itu ada semata-mata hanya sebagai hukum alam (alamiah) yang
dipengaruhi oleh evolusi, yaitu perubahan bertahap dari sederhana menjadi ideal
(sempurna).
Pendapat Feuerbach,
mendapat banyak kritik dan pertentangan dari para filosof lain.Filosof Irlandia, George Berkeley (1685-1753 M) menolak tubuh manusia sebagai yang utama dari hakekat
sebuah kebendaan. Bagi Berkeley, tidak bisa dipungkiri adanya tubuh adalah
bersifat materi akan tetapi, esitensi tubuh tidak akan memiliki makna tanpa
adanya Jiwa yang bersumber dari keberadaan akal. Sehingga semua yang wujud
semata-mata hanyalah pengalaman jiwa.Jiwa menjadi titik aktifitas segala sesuatu.
Jiwa bertindak sebagai
subjek, dan badan tak ubahnya hanya cerminan dari yang tersembunyi, yaitu jiwa.[3].
Sekarang coba kita
lihat, fakta hidup yang kita jalani. Begitu kita lahir, kita tidak pernah
mengetahui existensi diri kita, kita tidak pernah tahu diri kita, tidak bisa tahu, dan merasakan hembusan udara pertama kali yang kita hirup, tidak bisa merasakan sedih atau bahagia,
memiliki keinginan, kita tidak
pernah tahu apa-apa, jiwa kita terasa kosong tidak terisi.
Dalam
pandangan Islam, Jiwa lahir bukan karena pikiran, meskipun jiwa dirasakan
keberadaanya setelah tumbuh kembangnya pikiran. Jiwa ada jauh sebelum akal
manusia tumbuh menjadi sempurna. Allah sudah menyiapkan Jiwa dalam bentuk benih
yang disemaikan dalam sebuah lahan di dalam tubuh. Penyemaian Jiwa
dilakukan bersamaan dengan di tiupkannya ruh pada jasat manusia ketika masih dalam bentuk bayi di dalam kandungan.
Seiring
dengan bertambahnya usia kandungan, lahan jiwa itu
diolah oleh orang tua kita, terutama ibu
dengan tingkahlaku kesehariannya. Ladang jiwa setiap saat dicangkul dengan amal
perbuatan keseharian mereka. Perbuatan yang baik, ibarat pupuk yang menyuburkan
dan perbuatan yang penuh dengan kejahatan, ibarat racun yang mencemari ladang.
Meskipun kita masih dalam kandungan ibu, perbuatan orang-orang terdekat yaitu
ibu dan bapak sudah mampu memberikan pengaruh pada tumbuh kembangnya
kepribadian seorang anak.
Kecambah
jiwa tumbuh secara perlahan-lahan seiring dengan tumbuh kembangnya akal manusia. Ketika kita lahir kedunia, kecambah
jiwa pun belum bersemi, kita masih tidak tahu apa-apa tentang diri kita, jiwa
kita masih kosong. Sehingga, dapat diibaratkan bayi manusia tidak beda dengan
bayi gorilla, hanya mengikuti naluri untuk sekedar bertahan hidup, seperti
menangis untuk meminta air susu. Jiwa yang masih kosong itu belum bisa diminta
pertanggungjawaban. Oleh karena itulah, Allah
tidak meminta pertangungjawaban seorang bayi atau anak yang belum dewasa, atas
perbuatannya.
Masa-masa awal tumbuhnya jiwa masih sangat didominasi
oleh nafsu
(insting), seperti
keinginan-keinginan anak kecil yang sulit untuk dicegah, ingin menang sendiri
dan harus dituruti segala keinginannya.
Selanjutnya,
orang tua kita dan lingkungan dimana kita tinggal sedikit-demi sedikit
memberikan pendidikan pada kita. Memori akal mulai terisi dengan data dan
fakta-fakta. Otak secara perlahan mulai dapat bekerja dengan logika yang sederhana,
terus berkembang sampai pada penguasaan logika yang rumit.
Awal hidup manusia yang masih bayi tidak
bisa membedakan situasi bahaya atau aman, sehingga panasnya api bagi anak kecil
tidak sesuatu yang menakutkan. Saat manusia bayi pertama bisa menerima kesan kehidupan, saat mulainya
kecambah jiwa kita tumbuh. Seiring dengan miningkatnya kemampuan berfikir dan merasa,
lahan jiwa yang kosong itu mulai tumbuh seperti
kecambah. Ibarat kertas kosong, jiwa
sudah tergambar jelas tabiatnya, dari penerimaan kesan dari orang-orang sekitar, respon terhadap kejadian
alam lingkungan, dan kemampuan ilmu pengetahuan yang dimiliki.
Dari hari kehari, penggambaran jiwa semakin lengkap seiring dengan
tingkat perkembangan akal dan kedewasaan manusia.Dan seiring dengan kedewasaan usia, otak semakin
tumbuh sempurna, dan jiwa kita mulai bisa merasakan sedih, bahagia, penyesalan,
rasa berdosa, dan bangga. Manusia mulai mampu membedakan mana yang memberikan
manfaat dan mana yang memberikan madorot, mana perbuatan dosa dan mana
perbuatan yang mendatangkan pahala. Dan anak mulai tumbuh rasa malu apabila
melakukan sebuah kesalahan atau perbuatan yang tidak sesuai dengan norma agama.
Pada Masa Baligh (tamzis), kecambah
jiwa telah tumbuh dengan
sempurna, dengan batang yang kuat dengan ranting-rangting bercabang lebat.
Setelah tumbuh sempurna inilah, tinggal bagaimana manusia menghias jiwanya
dengan amal perbuatan yang sholeh atau sesat.Jiwa yang sempurna sudah mampu
untuk mengemban amanah, yang dipertanggungkan jawab dihadapan Tuhan.
Manusia yang
tumbuh pada lingkungan yang baik, akan menguatkan potensi jiwa yang luhur,
sebaliknya jiwa yang berada pada badan yang tumbuh pada lingkungan yang penuh
dengan kejahatan, akan menguatkan potensi jiwa yang kearah kesesatan.
Oleh karena itu gambaran jiwa pada tubuh manusia bisa berubah-ubah
sesuai dengan amal perbuatannya. Jiwa yang berada pada tubuh dengan amal
perbuatan yang buruk dan penuh
dosa, akan dipenuhi dengan
noktah hitam, sebaliknya jiwa yang tumbuh pada badan dengan amal perbuatan yang
baik akan tumbuh dengan keluruhan budi dan kebahagiaan, sampai hari pembalasan diakhirat.
Situasi
kejiwaan yang digambarkan diatas itu sejalan dengan pandangan al-Ghazali
tentang Jiwa. Dalam pandangan Al-Ghazali, Jiwa dan badan dipandang memiliki
hubungan saling menerima kesan.Jiwa yang bersih akan membawa dampak yang
positif bagi perbuatan-perbuatan anggota badan, perilaku badan yang menimbukan
kesan kebaikan, maka akan tumbuhlah kebaikan dalam jiwa, berupa tingkah laku
yang baik dan akhlak yang diridhai oleh Allah.
Oleh karena
itulah, kesadaran jiwa menjadi penentuan baik buruknya amal perbuatan manusia. Sehingga
dalam ajaran Islam, niat yang tumbuh dari hati nurani atau jiwa yang tulus yang
menjadi penentu amal perbuatan manusia. Niat menjadikan nilai perbuatan manusia
menjadi bermakna dan yang menjadikan perbuatan itu di hitung oleh Allah sebagai
amal. Amal yang baik mendapatkan pahala, dan amal yang buruk mendapatkan
balasan siksa. Tanpa adanya niat, kesempurnaan amal tidak akan pernah dicapai,
karena tidak ada kesadaran diri yang mampu memberikan kesan postif pada Jiwa.
Dari
pendapat Al-Ghazali ini dapat dipahami, bahwa hubungan antara badan dan jiwa
adalah hubungan yang saling mempengaruhi, kebaikan perilaku badan dengan segala
keberadaanya menentukan keadaan jiwa. Jiwa yang telah ada juga pada akhirnya
menentukan pula perilaku badan.Ujung pangkal dari gambaran jiwa adalah
perbuatan manusia itu sendiri, karena disinilah letak tanggungjwawab manusia
yang akan dimintai pertangungjawaban di akhirat kelak.
Dari
ungkapan tersebut memuat sebuah konsep, bahwa bahwa tingkah laku manusia itu
sangat ditentukan oleh keadaan jiwanya dalam relasi horisontalnya dengan alam
atau lingkungan dan relasi transendentalnya dengan Tuhan. Hal ini berarti unsur
rohaniah (kejiwaan) manusia dipandang sebagai subtansi yang sangat menentukan keadaan perbuatan jasmani. Begitu pula sebaliknya, kebiasaan-kebisaan amal
perbuatan keseharian manusia juga menjadi membentuk karakter kejiwaan manusia.
Amal perbuatan yang selalu mengedepankan akhlakul karimah, akan membentuk
pribadi dengan jiwa keluhuran, dan sebaliknya amal perbuatan yang penuh dengan
angkara murka, akan membenguk jiwa menjadi rusak dan kotor.
Lalu pertanyaannya, mengapa manusia bisa melakukan tindakan baik dan
tindakan yang buruk? Padahal Allah memberikan potensi yang sama pada setiap
manusia, karena tidak mungking Allah tidak berbuat adil terhadap mahluknya.
Untuk
menjawab pertanyaan itu, ulasan tentang akal penjadi jawabannya. Sebab akal
merupakan sarana bagi manusia untuk memilih tindakan yang akan dilakukan.Akal
dapat diibaratkan sebuah filter yang menentukan apakah manusia mengikuti hati
nuraninya yang senantiasa menuju sebuah kebenaran ataukah condong pada hawa
nafsunya yang condong kepada kerusakan.
Akal manusia
yang berfikir, menentukan perilaku dan amal perbuatanya. Namun demikian, akal
dengan kemampuan berfikirnya juga bisa di tanggalkan sama sekali oleh manusia,
manusia bisa saja menuruti kemauan hati nuraninya, dan juga sebaliknya, manusia
menuruti saja kemauan hawa nafsunya.
Oleh karena
itu, pendidikan menentukan peran penting dalam membantu akal mencapai
kesewasaannya. Pendidikan akal ini dapat diperoleh dari lingkungan dimana
tempat tumbuh kembangnya anak, maupun melalui lembaga-lembaga formal seperti
sekolah atau madrasah. Anak yang senantiasa dibiasakan berperilaku baik dengan
pendidikan yang baik akan tumbuh menjadi anak dengan jiwa yang baik.
Begitu juga
sebaiknya, anak yang tidak memiliki pendidikan yang cukup untuk membentuk
sebuah prilaku yang baik, maka anak akan tumbuh dalam kondisi jiwa yang buruk.
Sehingga pada akhirnya mempengaruhi perilaku keseharinnya. Dan pada akhirnya
kesehariannya ini akan melekat menjadi tabiat
dan kebiasaan atau karakter. Karakter akan sangat menentukan dan menjadi
gambaran utama yang ada pada kondisi kejiwaannya.
Sebagai
ciptaan yang sempurna dari pencipta yang maha sempurna, kelebihan manusia semakin
lengkap dengan adanya kemampuan berfikir yang dimiliki oleh otaknya. Setiap
mamalia yang diciptakan oleh Allah memiliki otak, tetapi hanya manusia yang
kemampuan otaknya bisa berfikir jauh melibihi mamalia lain.
Disinilah
letak kemandirian manusia dalam menentukan amal perbuatan untuk mengisi
kehidupannya. Allah hanya semata-mata menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan
oleh manusia sesuai dengan tangunggungjawab yang diemban manusiadi muka bumi,
yaitu sebagai kholifah. Apakah manusia akan berbuat kerusakan dimuka bumi, atau
memakmurkannya melalui cara-cara yang baik yang telah digariskan dalam
pentunjuk kitab suci. Allah memberikan kebebasan manusia melalui berfikir
sebelum bertindak. Dan hasil dari tindakan itu akan diminta pertangungan jawab
oleh yang pencipta di hari yang
ditentukan, yaitu hari pembalasan.
Melihat
potensi manusia yang sedemikian besar dan mulia ini, apakah kita akan
sia-siakan. Masih banyak diantara kita yang tidak menyadari kebesaran kemampuan
yang dimiliki oleh manusia, sehinga mereka memandang dirinya rendah. Padahal, dengan
Jiwa yang dimiliki oleh manusia, manusia mampu menyentuh dimensi kerohanian,
memasuki ruang-ruang spiritual yang memiliki kebenaran abadi. Dengan otak yang
berfikir kita mampu mewujudkan apa yang kita inginkan (atas ijin dan ridlo
Allah), dan dengan badan kita, mendapatkan fasilitas hidup yang sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar