Tanpa ada keraguan
sedikitpun, bahwa Allah
menciptakan manusia adalah mahluk yang
paling sempurna. Dalam hal ini Allah memberikan petunjuk melalui kitab
suci-Nya, yang
artinya:
Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. at-Tîn [95]: 4)
Pengakuan pada kesempurnaan wujud
manusia, tentu tidak dimaksudkan merendahkan mahluk-mahluk Allah lainnya,
seperti setan, malaikat, hewan maupun tumbu-tumbuhan, atau
bahkan benda-benda mati sekalipun seperti batu dan tanah. Karena bagaimanapun
juga, sesuatu yang diciptakan oleh dzat yang maha sempurna tentu tidak akanlepas
dari sifat kesempurnaan. Karena, Allah tidak mungkin
menciptakan mahluk secara asal, tanpa ada kesesuaian dengan maksud
dan tujuannya. Letak kesempurnaan ciptaan Allah adalah terkait erat
dengan tujuan
yang hendak diinginkan-Nya.
Dalam
Al-Qur’an Allah
mengingatkan melaui firmanya : (Dia) yang menciptakan (segala sesuatu) dan
menyempurnakan(QS. al-A‘lâ
[87]: 2).
Begitu pula
kesempurnaan manusia, penciptaan manusia
juga terkait erat dengan maksud dan tujuannya. Kita dapat perumpamakan manusia
adalah sebuah pisau yang dibuat
oleh seorang pandai besi. Sebuah
pisau yang sangat tajam, akan memiliki makna sempurna jika dikaitkan dengan
tujuan pisau itu digunakan. Ketajaman pisau dapur
tentu berbeda fungsinya dengan ketajaman pisau untuk membelah kayu.
Setajam apapun pisau dapur tidak akan efektif ketika digunakan untuk memotong kayu
dan juga sebaliknya pisaupemotong kayu juga tidak bisa digunakan secara
maksimal untuk memotong sayuran dapur.
Demikian
juga halnya manusia sebagai mahluk yang sempurna tidak bisa dibandingkan dengan
kesempurnaan malaikat, jin, setan atau pun hewan dan tumbuhan. Kesempurnaan
manusia berkaitan erat dengan fungsi utama penciptaannya yaitu sebagai kholifah
dibumi. Kholifah fil ardh adalah fitrah diciptakannya manusia oleh Tuhan.
"Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(Q.S.2:30).
Dengan mengikuti petunjuk
Allah yang ada dalam Al-Qur’an,kita dapat menegtahui bahwa
Allah sudah jauh-jauh sebelumnya, telahberencana menciptakan
manusia dibumi. Dalam mewujudkan rencana-Nya itu, Allah terlebih dahulu
menciptakan para malaikat dan bangsa Jin. Jin dicipta Allah dari
api, sedangkan malaikat dicipta dari cahaya.
Keduanya begitu taat kepada Allah, sehingga ketika Allah bermaksud
menciptakan manusia, malaikat angkat bicara karena ketidaktahuannya apa maksud
Allah menciptakan manusia di bumi.
Allah pertama kali membuat manusia dari sari pati tanah yaitu tanah liat
kering dari lumpur hitam.Dengan
kekuasaan-Nya, “kun fayakun” maka
jadilah manusia pertama yang kita kenal dengan nama Adam. Dalam hal ini Allah berfirman :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang
diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26)
Untuk
menjawab ketidaktahuan malaikat, Allah kemudian mengajarkan nama-nama kepada
Adam. Dalam firmannya :
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu
berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian mamang
orang-orang yang benar!” (QS al-Baqarah [2]: 31)
Mendapatkan tantangan dari Tuhannya, malaikat hanya bisa memuji
kebesaran Allah, dan mengaku tunduk
pada perintahnya :
Mereka menjawab:
“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah
Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha mengetahui lagi
Maha Bijaksana.” (QS al-Baqarah
[2]: 32)
Dan
selanjutnya Allah berfirman :
”Allâh berfirman: “Hai Adam,
beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah
diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allâh berfirman:
“Bukankah sudah Aku katakan kepada kalian, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui
rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kalian lahirkan dan apa yang
kalian sembunyikan?”
Setelah Allah menunjukkan rahasia (khikmah) dibalik penciptaan Adam,
kemudian Allah memerintahkan
setan dan malaikat untuk bersujud
kepada Adam. Malaikat yang jiwanya lurus, selurus rambatan cahaya, mengikutpadaperintah-Nya dengan taat. Akan tetapi Syetan (bangsa jin yang ingkar)
merasa dirinya lebih mulia dibandingkan dengan
Adam, menyatakan menolak, tidak menuruti keingingan Tuhannya.
Dan
(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kalian kepada
Adam!” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan membesarkan diri dan
adalah ia termasuk golongan yang Kafir.” (QS al-Baqarah [2]: 34)
Melihat perilaku syetan, Allah
menjadi sangat murka, dan mengutuk syetan, lalu mengusirnya
dari surga.
Dia
(Allah) berfirman, "(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena
sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai
hari kiamat." (QS. 15/Al-Hijr: 35)
Setantidak
tinggal diam, ketika
mendapat murka dari Allah.Setan kembali protes dengan mengajukan syarat. Hukuman dari Allah bisa dia terima
dengan rela, tetapi dia meminta ijin untuk tetap bisa menggoda anak cucu adam
sampai hari pembalasan. Kesombongan Iblis ini di abadikan dalam alqur’an Surat
Al-A’raaf, ayat 11-18:
11.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu,
kemudian Kami katakan kepada Para Malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”,
Maka merekapun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud. 12.
Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di
waktu aku menyuruhmu?” Menjawab Iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau
ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah”. 13. Allah
berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan
diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang
hina”. 14. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”.
15. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh.”
16. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya
benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, 17.
kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari
kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka
bersyukur (taat). 18. Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai
orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya Barangsiapa di antara mereka mengikuti
kamu, benar-benar aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya.” (QS.
Al-A’raaf: 11-18)
Sejak saat
itulah, syetan menjadi musuh bebuyutan manusia. Setan tidak terima atas
keputusan Allah, yaitu mengeluarkannya
dari surga. Sebagai bentuk protes pada kekuasaan Allah, syetan meminta untuk
diberikan kesempatan menggoda anak cucu adam dengan berbagai cara, agar
senantiasa ingkar kepada Tuhannya.
Meski Adam hidup
senang di surga, tetapi Iatidak bahagia karena sifat kesepian selalu muncul
dalam jiwanya.Tak tahan dengan rasa sepi, Adam mengadu kepada Allah. Ia meminta diberikan teman hidup di surga. Allah mengabulkan
keinginan Adam. Dari tulang sulbinya sendiri, teman hidup Adam yang bernama
Hawa di ciptakan dengan syarat keduanya berjanjitidak mendekati buah terlarang
yaitu zaqun.
Akan tetapi, atas
kecerdikan dan kelicikan setan,pasangan Adam dan
Hawa akhirnya tergoda untuk
memakan buah larangan Allah itu. Dengan tipu datanya, Setan berhasil menghancurkan kebahagiaan Adam
di surga, laksana api menghancurkan kayu bakar. Adam
dan Hawa tanpa menyadari telah melanggar larangan itu. Allah pun murka, dan mengusir
Adam dari Surga untuk tinggal di Bumi.
Sejak Adam menempati Bumi, manusia berkembang secara biologis melakui
membuahan sperma dengan ovum. Sejak saat itu pula, kecerdasan dan kemampuan
manusia untuk menaklukan alam berkembang, dan terus berkembang sesuai dengan kemajuan peradaban manusia. Sehingga semakin nampak potensi dari
kelebihan manusia dibandingkan dengan
mahluk-mahluk Allah yang lainnya.
Kelebihan
manusia yang dicipta dari sisi Tuhannya sangat nyata.Manusia dibekali oleh
Allah berupa kesempurnaan badan sebagai hardwere
yang lengkap dengan pancaindra.Dan sebagai softwerenya manusia dibekali oleh
Allah berupa hati dan otak. Kesempurnaan penciptaan Manusia, digambarkan dalam
Al-Qur’an :
Dan sesungguhnya
telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di
lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka
dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan. (al-Isra’ : 70)
Tujuan akhir dari seluruh pemberian nikmat itu kepada manusia tidak lain
adalah hanya semata-mata agar manusia senaniasa bersyukur dan beribadah kepada
Allah, menjunjung dan mengibarkan
kebesaran Allah di muka bumi, melaui jalan takwa.Maksud dan
tujuan penciptaan manusia ini, dilukiskan oleh Allah dalam Surat Adz-Dzaariyaat
ayat 56 yang artinya :"Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Dan
Surat Al-Baqarah ayat 21, yaitu “Hai
manusia, sembahlah Tuhanmuyang telah menciptakanmudan orang-orang yang
sebelummu,agar kamu bertaqwa”.
Kepercayaan Allah pada manusia untuk memegang amanat
sebagai kholifah di bumi, karena
manusia mempunyai segala kemampuan yang dibutuhkan untuk memegang amanat itu.Awal
manusia yang terbuat dari sari pati tanah, itu diberikan daya hidup berupa ruh atau nyawa.Dengan adanya ruh, badan manusia dengan seluruh
perangkatnya menjadi berfungsi dan bermakna.Anggota badan seperti kaki dan
tangan dapat bergerak, otak dapat berfikir dan hati menjadi bisa merasa.Tanpa
adanya nyawa, manusia tidak ubahnya seperti benda mati, tidak mememiliki daya
untuk melangsungkan kehidupan yang diamanatkan Tuhan.
Kemudian
Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya Ruh Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit
sekali bersyukur”
QS. As Sajadah (32) : 9
Dengan
kemampuan fisik luar biasa yang dimiliki, manusia dapat memenuhi hajat hidupnya
dengan lebih mudah dibandingkan dengan mahluk lain ciptaan Allah di muka bumi. Kerangka tubuh manusia disusun atas struktur
tulang yang sangat kompleks dan lengkap
dibandingkan dengan primata lain, sehingga
manusia dapat berjalan dengan tegak, fleksible dan lentur.
Dibalik
kemampuan fisik yang sangat sempurna, Tuhan juga memberikan kemampuan manusia logika
berfikir, melebihi mahluk-mahluk primata lain di bumi.
Respon dari luar yang diterima oleh panca indra mampu di simpan, direspon dan
dianalisa dengan baik oleh otak Manusia. Sampai pada akhirnya
manusia menentukan sikap dan perbuatannya dalam mensikapi segala respon
kehidupan yang ada di bumi ini.
Untuk mencapai sebuah kesadaran
dan kebenaran dalam
memutuskan, Allah membekali manusia denganhati nurani.
Hati nurani menjadi pengendali perbuatan manusia agar tidak keluar dari
rambu-rambu kebenaran yang digariskan oleh Allah.Dapat diibaratkan, hati nurani
adalah tali kekang, yaitu tali kendali yang menjaga manusia dari kesalahan, agar manusia tidak
terjerumus pada jurang kesesatan.
Badan hati dan akal bekerja bersama-sama dalam diri manusia untuk
berjuang melawan hawa nafsunya yang senantiasa membujuk rayu untuk ingkar
kepada Allah.Sejak ditiupkannya roh pada jasad
manusia, kesadaran jiwa manusia timbul
tenggelam memperebutkan pertarungan antara kebaikan dan keburukan. Kebaikan
dikendalikan oleh hati nurani, dan kejahatan dikendalikan oleh hawa nafsu yang
tidak lain adalah bujuk rayu setan. Ditengah-tengah pertarungan itu, manusia
dapat memilah dan menyeleksi perbuatannya dengan bantuan pikirannya. Kecondongan
pada hati nurani menjadikan manusia tumbuh jiwa mulia, akan tetapi sebaliknya,
kecondongan pada setan akan menjadikan jiwa manusia menjadi buruk. Sebagaimana
firman Allah :
Demikianlah Allah menaruh kepercayaan penuh pada manusia sebagai
kholifah di bumi.Manusia dipercaya sebagai wakil Tuhan, melebihi kepercayaannya
kepada para malaikat, padahal malaikat adalah mahluknya yang senatiasa tunduk,
taat dan tidak pernah membantah disekitpun.Hal ini menunjukkan bahwa manusia
memiliki potensi ruhani yang jauh lebih mulia, melebihi memuliaan malaikat.
Akan tetapi itu semua tergantung pada manusia sendiri, yaitu bagaimana
mempergunakan hati nurani dan akalnya untuk senantaisa mencari kebaikan dengan tunduk dan taat kepada
Allah, ataukah mengikuti hawa nafsu dan godaan setan.
Dengan
berfungsinya seluruh perangkat hidup manusia, maka gambaran jiwa manusia
menjadi terisi,
seperti tumbuhnya kecambah di musim hujan. Kesan-kesan hidup manusia tergambar dalam jiwanya, bahagia,
menderita atau sedih melekat timbul tenggelam pada diri manusia.
Manusia akan mencapai derajat setinggi-tingginya dan dapat pula
direndahkan serendah-rendahnya melebihi derajat hewan. Hal itu tergantung pada bagaimana manusia menggambarkan
keadaan dirinya pada jiwanya. Dengan kesanggupannya menjadi kholifah
yaitu amanat menjadi wakil Tuhan di bumi merupakan tanda-tanda keistimewaan dan kelebihan
manusia dibandingkan makhluk-makhluk yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar